Senin, 20 Januari 2014

Koefisien Fenol



LAPORAN KHUSUS MIKROBIOLOGI
KOEFISIEN FENOL

 








DISUSUN OLEH :
     
      DEWI ANGGIANA PUTRI                 111210479/9963617456
     




SMK ANALIS KIMIA NUSA BANGSA BOGOR
2013



I.               TUJUAN
Agar siswa dapat mengetahui keefektifan suatu desinfektan yang larut dalam air
II.           WAKTU PELAKSANAAN
Tanggalmulai   : 23 April 2013
Tanggalselesai : 4 Mei 2013
III.          DASAR TEORI
Fenol merupakan zat pembaku daya antiseptik obat lain sehingga daya antiseptik dinyatakan dengn koefisien fenol. Koefisien fenol merupakan sebuah nilai aktivitas germisidal suatu antiseptik dibandingkan dengan efektivitas germisidal fenol. Aktivitas germisidal adalah kemampuan suatu senyawa antiseptik untuk membunuh mikroorganisme dalam jangka waktu tertentu. Fenol merupakan salah satu germisidal kuat yang telah digunakan dalam jangka waktu panjang. Efektivitas senyawa antiseptik sangat dipengaruhi oleh konsentrasi dan lama paparannya. Semakin tinggi konsentrasi dan semakin lama paparan akan meningkatkan. efektivitas senyawa antiseptik. Koefisien fenol yang kurang dari 1 menunjukkan bahwa bahan entimikrobial tersebut kurang efektif dibanding dengan fenol. Dan sebaliknya, jika koeisien fenol lebih dari 1 maka bahan mikrobial tersebut lebih efektif jika dibandingkan dengan fenol.
Koefisien fenol ditentukan dengan cara membagi pengenceran tertinggi dari fenol yang mematikan mikroorganisme dalam 15 menit, 10 menit tetapi tidak mematikan dalam 5 menit terhadap pengencaran tertinggi bahan mikrobial Zat-zat antimikroba yang dipergunakan untuk disinfeksi harus diuji keefektifannua. Cara untuk menentukan daya sterilisasi zat-zat tersebut adalah dengan melakukan tes koefisien fenol. Uji ini dilakukan untuk membandingkan aktivitas suatu produk (desinfektan) dengan daya bunuh fenol dalam kondisi tes yang sama. Berbagai pengenceran fenol dan produk yang dicoba dicampur dengan suatu volume tertentu biakan Salmonella thyphosa atau Staphylococcus aureus.
Beberapa bahan antimikroba tidak membunuh tetapi hanya menghambat pertumbuhan bakteri dalam konsentrasi kecil. Berdasarkan hal ini maka perlu diketahui MIC (Minimum Inhibitor Consentration) dan MKC ( Minimum Killing Consentration) bahan anrimikroba terhadap mikroorganisme. Dalam praktikum MIC didefenisikan sebagai konsebtrasi terendah bahan antimikroba yang menghambat pertumbuhan. MIC merupakan petunjuk konsentrasi yang harus digunakan jika akan membunuh mikroorganisme tertentu, seperti antiseptika desinfektan, obat antimikroba, dan bahan antibiotik.



IV.        ALAT DAN BAHAN
ALAT                             BAHAN
1.        Autoclave                         1. Aquadest steril
2.        Batang pengaduk             2. Biakan murni mikroba Staphylococcus aureus
3.        Bulp                                      pada agar miring
4.        Cawan petri                      3. Fenol
5.        Gelas ukur                        4. NaCl fisiologis
6.        Hotplate                           5. Media Nutrient Agar
7.        Incubator                          6. Sampel Desinfektan
8.      Kaca arloji
9.      Labu Erlenmeyer
10.  Neraca
11.  Pipet ukur1ml,5ml,10ml &25ml
12.  Kawat Ose
13.  Stopwach 

      
V.           PROSEDUR KERJA
A.   MEMBUAT MEDIA NUTRIEN AGAR
1)    Ditimbang 5 gram media NA
2)    Dilarutkan di dalam labu Erlenmeyer sampai volume larutan 250ml
3)    Dihomogenkan dan dipanaskan sampai mendidih
4)    Dipipet 15ml media NA dan dimasukan ke 18  tabung reaksi
5)    Disterilisasi basah menggunakan autoclave selama ± 1jam dalam suhu 121°C tekanan 1 atm
B.   MEMBUAT NaCl FISIOLOGIS
1)    Ditimbang 0.85 gram NaCl (p.a)
2)    Dilarutkan kedalam labu Erlenmeyer menggunakan aquadest steril sampai volume larutan 100ml
3)    Disterilisasi basah menggunakan autoclave selama ± 1jam dalam suhu 121°C tekanan 1 atm
C.     PEMBUATAN INOKULUM BAKTERI
1)   Bakteri Salmonella thyphosa atau Staphylococcus aureus sebelumnya    telahditanam pada agar nutrisi (Nutrient Agar) miring dan diinkubasi pada suhu 37°C selama 24-48 jam.
2)      Disiapkan tabung reaksi berisi 9ml NaCl fisiologis
3)      Dipindahkan biakan S. thyphosa atau S. aureus tersebut masing-masing  sebanyak 1 ml ke dalam 5 tabung reaksi yang masing-masing telah berisi larutan 9ml NaCl  fisiologi.

D.    PEMBUATAN LARUTAN FENOL
1)      1 g fenol dalam 90 ml air aquadest steril.
2)      Dikemudian dilakukan pengenceran konsentrasi menjadi 1:90
3)      Dipipet 1 ml larutan fenol 1:90 kedalam erlenmayer yang telah berisi 99 ml aquadest steril
4)      Dikemudian dlakukan pengenceran 1:100
E.     PEMBUTAN LARUTAN DESINFEKTAN
1)      Disiapkan 4 buah erlenmayer yang telah berisi aquadest steril dengan volume yang berbeda-beda di dalamnya yaitu 249 ml,299 ml, 349 ml, dan 399 ml, secara berurutan
2)      Dilakukan pengenceran pertama dengan mempipet 1 ml larutan desinfektan ke dalam 249 aquadest steril sehingga konsentrasi menjadi 1:250
3)      Dipengenceran selanjutnya adalah dengan memindahkan 1 ml desinfektan  ke dalam erlenmayer berisi 299 ml aquadest steril. Konsentrasi desinfektan pada erlenmayer ini adalah 1:300
4)      Dipindahkan 1 ml desinfektan  ke dalam erlanmayer yang berisi 349 ml aquadest steril sehingga konsentrasi kini 1:350
5)      Dipipet 1  ml desinfektan ke dalam erlanmayer  berisi 399  ml aquadest steril  sehingga konsentrasi pada erlenmayer ini adalah 1:400
6)      Desinfektan yang akan dipakai selanjutnya adalah yang konsentrasinya 1:250, 1:300,1:350 dan 1:400. Media, bakteri uji, larutan fenol, dan desinfektan telah disiapkan. Dengan demikian kita dapat melakukan inokulasi bakteri uji dalam desinfektan dan fenol dengan memperhitungkan waktu kontak 5, 10, dan 15 menit secara akurat.
F.      UJI KOEFISIEN FENOL
A.
1)      Disiapkan 18 tabung reaksi
2)      Dipipet sebanyak 5 ml larutan fenol 1:90,masukkan kedalam 3 tabung reaksi
3)       Dipipet sebanyak 5 ml larutan fenol 1:100,masukkan kedalam 3 tabung reaksi
4)      Dipipet sebanyak 5 ml larutan desinfektan 1:250,masukkan kedalam 3 tabung reaksi
5)      Dipipet sebanyak 5 ml larutan desinfektan 1:300,masukkan kedalam 3 tabung reaksi
6)      Dipipet sebanyak 5 ml larutan desinfektan 1:350,masukkan kedalam 3 tabung reaksi
7)      Dipipet sebanyak 5 ml larutan desinfektan 1:400,masukkan kedalam 3 tabung reaksi
B. uji fenol
1)      Disiapkan 18 cawan petri berisi media NA yang telah mengeras
2)      Diuji Fenol 1:90
a.       Dipipet inokulum sebanyak 0,2 ml ke dalam 5ml  larutan fenol 1:90. Tunggu sampai 5 menit, ambil 1 ose dari campuran dan lakukan gores pada cawan petri yang berisi media NA  berlabel F5’ 1:90.
b.      Dipipet inokulum sebanyak 0,2 ml ke dalam 5ml larutan fenol 1:90.tunggu sampai 10 menit, ambil lagi 1 ose kemudian gores pada cawan petri yang berisi media NA  berlabel F10’ 1:90.
c.       Dipipet inokulum sebanyak 0,2 ml ke dalam 5ml larutan fenol 1:90.tunggu  sampai 15 menit, ambil lagi 1 ose kemudian gores pada cawan petri yang berisi media NA  berlabel  F15’ 1:90.
3)      uji fenol 1:100
a.       Dipipet inokulum sebanyak 0,2 ml ke dalam 5ml  larutan fenol 1:100. Tunggu sampai 5 menit, ambil 1 ose dari campuran dan lakukan gores pada cawan petri yang berisi media NA  berlabel F5’ 1:100.
b.      Dipipet inokulum sebanyak 0,2 ml ke dalam 5ml larutan fenol 1:100.tunggu sampai 10 menit, ambil lagi 1 ose kemudian gores pada cawan petri yang berisi media NA berlabel F10’ 1:100.
c.       Dipipet inokulum sebanyak 0,2 ml ke dalam 5ml larutan fenol 1:100.tunggu  sampai 15 menit, ambil lagi 1 ose kemudian gores pada cawan petri yang berisi media NA  berlabel  F15’ 1:100.
4)      uji desinfektan 1:250
a.       Dipipet inokulum sebanyak 0,2 ml ke dalam 5ml  larutan desinfektan 1:250. Tunggu sampai 5 menit, ambil 1 ose dari campuran dan lakukan gores pada cawan petri yang berisi media NA  berlabel D5’ 1:250.
b.      Dipipet inokulum sebanyak 0,2 ml ke dalam 5ml larutan desinfektan 1:250.tunggu sampai 10 menit, ambil lagi 1 ose kemudian gores pada cawan petri yang berisi media NA berlabel D10’ 1:250.
c.       Dipipet inokulum sebanyak 0,2 ml ke dalam 5ml larutan desinfektan 1:250.tunggu  sampai 15 menit, ambil lagi 1 ose kemudian gores pada cawan petri yang berisi media NA berlabel  D15’ 1:250.
5)      uji desinfektan 1:300
a.       Dipipet inokulum sebanyak 0,2 ml ke dalam 5ml  larutan desinfektan 1:300. Tunggu sampai 5 menit, ambil 1 ose dari campuran dan lakukan gores pada cawan petri yang berisi media NA  berlabel D5’ 1:300.
b.      Dipipet inokulum sebanyak 0,2 ml ke dalam 5ml larutan desinfektan 1:300.tunggu sampai 10 menit, ambil lagi 1 ose kemudian gores pada cawan petri yang berisi media NA berlabel D10’ 1:300.
c.       Dipipet inokulum sebanyak 0,2 ml ke dalam 5ml larutan desinfektan 1:300.tunggu  sampai 15 menit, ambil lagi 1 ose kemudian gores pada cawan petri yang berisi media NA berlabel  D15’ 1:300.
6)      uji desinfektan 1:350
a.       Dipipet inokulum sebanyak 0,2 ml ke dalam 5ml  larutan desinfektan 1:350. Tunggu sampai 5 menit, ambil 1 ose dari campuran dan lakukan gores pada cawan petri yang berisi media NA  berlabel D5’ 1:350.
b.      Dipipet inokulum sebanyak 0,2 ml ke dalam 5ml larutan desinfektan 1:350.tunggu sampai 10 menit, ambil lagi 1 ose kemudian gores pada cawan petri yang berisi media NA berlabel D10’ 1:350.
c.       Dipipet inokulum sebanyak 0,2 ml ke dalam 5ml larutan desinfektan 1:350.tunggu  sampai 15 menit, ambil lagi 1 ose kemudian gores pada cawan petri yang berisi media NA berlabel  D15’ 1:350.
7)      Diiuji desinektan 1:400
a.       Dipipet inokulum sebanyak 0,2 ml ke dalam 5ml  larutan desinfektan 1:400. Tunggu sampai 5 menit, ambil 1 ose dari campuran dan lakukan gores pada cawan petri yang berisi media NA  berlabel D5’ 1:400.
b.      Dipipet inokulum sebanyak 0,2 ml ke dalam 5ml larutan desinfektan 1:400.tunggu sampai 10 menit, ambil lagi 1 ose kemudian gores pada cawan petri yang berisi media NA berlabel D10’ 1:400. Dipipet inokulum sebanyak 0,2 ml ke dalam 5ml larutan desinfektan 1:400.tunggu  sampai 15 menit, ambil lagi 1 ose kemudian gores pada cawan petri yang berisi media NA berlabel  D15’ 1:400.
8)      Diinkubasi cawan petri yang telah selesai digores pada suhu 36 ± 1º C selama 24 jam.
9)      Diamati ada tidaknya pertumbuhan bakteri pada setiap cawan petri
Pengamatan :
                                     (+) keruh : ada pertumbuhan
                                     (-) jernih : tidak ada pertumbuhan



VI.        PENGAMATAN
1)      Data penimbangan NaCl
Bobot kaca arloji + zat     =         39,7834                   g
Bobot kaca arloji kosong  =         38,9332                  g
bobot  zat                           =           0,8502                  g

2)       Sterilisasi aquadest steril
Jam masuk                     =        14.15   WIB
Jam mendesis                =        14.42   WIB
Jam sterilisasi                 =        14.54   WIB
Jam selesai sterilisasi       =       15.15   WIB
Jam keluar                        =      15.20   WIB
3)      Data penimbangan NA
Bobot kaca arloji + zat     =         40,4932                   g
Bobot kaca arloji kosong  =         38,4930                  g
bobot  zat                           =           20,0029               g

4)       Sterilisasi NA
Jam masuk                     =        09.10   WIB
Jam mendesis                =        09.35   WIB
Jam sterilisasi                 =        09.50   WIB
Jam selesai sterilisasi       =       10.05   WIB
Jam keluar                        =      10.15   WIB
5)      Data penimbangan Fenol
Bobot kaca arloji + zat     =         28,1650                   g
Bobot kaca arloji kosong  =         27,1648                  g
bobot  zat                           =           1,0002                 g

6)      Pengamatan koefisien fenol
Desifektan
Pengenceran
Waktu inkubasi(menit)
5
10
15
Fenol
1:90
Hidup
Hidup
Hidup
1:100
Hidup
Hidup
Hidup
Contoh uji
1:250
Hidup
Hidup
Mati
1:300
Hidup
Hidup
Hidup
1:350
Hidup
Hidup
Hidup
1:400
Hidup
Hidup
Mati
VII.       PEMBAHASAN
Dari pengamatan praktikum kali ini didapatkan hasil tes fenol 1:90, suatu desinfektan dengan konsentrasi 1:250, 1:300,1:350 dan 1:400. Tes fenol dengan pengenceran 1:90 pada tabel di atas menunjukkan bahwa bakteri  masih hidup sampai menit 15,begotu pula pada uji fenol 1:100,bakteri masih hidup sampai menit15.
Pada pengenceran suatu desinfektan 1:250, menunjukkan bahwa bakteri  masih hidup sampai menit ke-10 namun setelah 15 menit, bakteri tersebut mati. Hal ini cukup rasional oleh karena semakin lama desinfektan tersebut bekerja, semakin efektif pula daya disinfeksinya.asumsi kami adalah desinfektan ini memiliki kefektifitasan yang cukup bagus untuk membunuh bakteri tersebut.
Sementara pada pengenceran 1:300,cawan  menampakkan kekeruhan pada menit ke 5
sampai ke 15.begitu pula pada penganceran desinfektan 1:350. Dan  pada pengenceran desinfektan yang terakhir, yaitu 1:400, terdapat kekeruhan di menit ke-5 dan  menit ke-10.sedangkan menit ke-15 bakteri mati. Hal tersebut  menimbulkan keraguan pada hasil dari pengenceran 1:250, 1:300atau pada pengenceran 1:350 ini karena hasil yang di peroleh sama.oleh karena kesalahan yang kami lakukan pada praktikum ini, kita tidak dapat melakukan perhitungan koefisien fenol.Terjadinya hal ini dapat diakibatkan oleh berbagai faktor kemungkinan.
Faktor-faktor kemungkinan penyebab terjadinya kesalahan kami antara lain adalah:
   ·         Pengerjaan praktikum secara berkala
Kegagalan yang terjadi dalam praktikum ini mungkin juga disebabkan oleh pengerjaan cawan petri Uji Disinfektan secara berkala yang saat itu dimaksudkan untuk mempersingkat waktu pengerjaan. Pengerjaan secara paralel tersebut telah mengakibatkan ketidakakuratan dan ketidaktelitian perhitungan waktu yang diperlukan.
                ·         Ketidakakuratan dalam pengambilan bakteri menggunakan pipet ukur
Dalam menginokulasi kuman uji terhadap desinfektan, kami memindahkan bakteri tersebut hanya dengan pipet ukur sebanyak 0,2ml. terdapat kemungkinan bakteri terlalu banyak dibandingkan dengan konsentrasi yang diinginkan. Sebab pada percobaan kami, banyak bakteri yang hidup. Pengambilan bakteri dengan pipet ukur mungkin dapat lebih akurat.

·         Pengenceran desinfektan yang tidak akurat
Pada percobaan kali ini, kami mungkin juga melakukan kesalahan ketika melakukan pengenceran desinfektan ke dalam 1:250, 1:300, 1:350,dan 1:400.sehingga pada pengenceran 1:300 dan 1:350 bakteri masih hidup pada menit ke 15.sedangkan pada pengenceran 1:250 dan 1:400 bakteri padat dibunuh pada menit ke 15.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar