LAPORAN KHUSUS MIKROBIOLOGI
KOEFISIEN
FENOL
DISUSUN OLEH :
DEWI ANGGIANA PUTRI 111210479/9963617456
SMK ANALIS KIMIA NUSA BANGSA BOGOR
2013
I.
TUJUAN
Agar siswa dapat mengetahui
keefektifan suatu desinfektan yang larut dalam air
II.
WAKTU
PELAKSANAAN
Tanggalmulai : 23 April 2013
Tanggalselesai : 4 Mei 2013
III.
DASAR TEORI
Fenol
merupakan zat pembaku daya antiseptik obat lain sehingga daya antiseptik
dinyatakan dengn koefisien fenol. Koefisien fenol merupakan sebuah nilai
aktivitas germisidal suatu antiseptik dibandingkan dengan efektivitas
germisidal fenol. Aktivitas germisidal adalah kemampuan suatu senyawa
antiseptik untuk membunuh mikroorganisme dalam jangka waktu tertentu. Fenol
merupakan salah satu germisidal kuat yang telah digunakan dalam jangka waktu
panjang. Efektivitas senyawa antiseptik sangat dipengaruhi oleh konsentrasi dan
lama paparannya. Semakin tinggi konsentrasi dan semakin lama paparan akan
meningkatkan. efektivitas senyawa antiseptik. Koefisien fenol yang kurang dari
1 menunjukkan bahwa bahan entimikrobial tersebut kurang efektif dibanding
dengan fenol. Dan sebaliknya, jika koeisien fenol lebih dari 1 maka bahan
mikrobial tersebut lebih efektif jika dibandingkan dengan fenol.
Koefisien
fenol ditentukan dengan cara membagi pengenceran tertinggi dari fenol yang
mematikan mikroorganisme dalam 15 menit, 10 menit tetapi tidak mematikan dalam
5 menit terhadap pengencaran tertinggi bahan mikrobial Zat-zat antimikroba yang dipergunakan untuk disinfeksi harus diuji
keefektifannua. Cara untuk menentukan daya sterilisasi zat-zat tersebut adalah
dengan melakukan tes koefisien fenol. Uji ini dilakukan untuk membandingkan
aktivitas suatu produk (desinfektan) dengan daya bunuh fenol dalam kondisi tes
yang sama. Berbagai pengenceran fenol dan produk yang dicoba dicampur dengan
suatu volume tertentu biakan Salmonella thyphosa atau Staphylococcus
aureus.
Beberapa bahan antimikroba tidak membunuh tetapi hanya menghambat
pertumbuhan bakteri dalam konsentrasi kecil. Berdasarkan hal ini maka perlu
diketahui MIC (Minimum Inhibitor Consentration) dan MKC ( Minimum Killing
Consentration) bahan anrimikroba terhadap mikroorganisme. Dalam praktikum MIC
didefenisikan sebagai konsebtrasi terendah bahan antimikroba yang menghambat
pertumbuhan. MIC merupakan petunjuk konsentrasi yang harus digunakan jika akan
membunuh mikroorganisme tertentu, seperti antiseptika desinfektan, obat
antimikroba, dan bahan antibiotik.
IV.
ALAT DAN
BAHAN
ALAT BAHAN
1.
Autoclave 1.
Aquadest steril
2.
Batang pengaduk 2.
Biakan murni mikroba Staphylococcus
aureus
3.
Bulp pada agar miring
4.
Cawan petri 3. Fenol
5.
Gelas ukur 4. NaCl fisiologis
6.
Hotplate 5.
Media Nutrient Agar
7.
Incubator 6.
Sampel Desinfektan
8. Kaca arloji
9. Labu Erlenmeyer
10. Neraca
11. Pipet ukur1ml,5ml,10ml &25ml
12. Kawat Ose
13. Stopwach
V.
PROSEDUR
KERJA
A.
MEMBUAT MEDIA NUTRIEN AGAR
1)
Ditimbang 5 gram media NA
2)
Dilarutkan di dalam labu Erlenmeyer sampai volume larutan 250ml
3)
Dihomogenkan dan dipanaskan sampai mendidih
4)
Dipipet 15ml media NA dan dimasukan ke 18 tabung reaksi
5)
Disterilisasi basah menggunakan autoclave selama ± 1jam dalam suhu 121°C tekanan 1 atm
B.
MEMBUAT NaCl FISIOLOGIS
1)
Ditimbang 0.85 gram NaCl (p.a)
2)
Dilarutkan kedalam labu Erlenmeyer menggunakan aquadest
steril sampai volume larutan 100ml
3)
Disterilisasi basah menggunakan autoclave selama ± 1jam dalam suhu 121°C tekanan 1 atm
C.
PEMBUATAN INOKULUM BAKTERI
1)
Bakteri Salmonella
thyphosa atau Staphylococcus aureus sebelumnya telahditanam pada agar nutrisi (Nutrient
Agar) miring dan diinkubasi pada suhu 37°C selama 24-48 jam.
2)
Disiapkan tabung reaksi
berisi 9ml NaCl fisiologis
3)
Dipindahkan biakan S.
thyphosa atau S. aureus tersebut masing-masing sebanyak 1 ml ke dalam 5 tabung reaksi yang
masing-masing telah berisi larutan 9ml NaCl
fisiologi.
D.
PEMBUATAN LARUTAN FENOL
1)
1 g fenol dalam 90 ml air
aquadest steril.
2)
Dikemudian dilakukan
pengenceran konsentrasi menjadi 1:90
3)
Dipipet 1 ml larutan fenol
1:90 kedalam erlenmayer yang telah berisi 99 ml aquadest steril
4)
Dikemudian dlakukan
pengenceran 1:100
E.
PEMBUTAN LARUTAN DESINFEKTAN
1)
Disiapkan 4 buah erlenmayer
yang telah berisi aquadest steril dengan volume yang berbeda-beda di dalamnya
yaitu 249 ml,299 ml, 349 ml, dan 399 ml, secara berurutan
2)
Dilakukan pengenceran pertama
dengan mempipet 1 ml larutan desinfektan ke dalam 249 aquadest steril sehingga
konsentrasi menjadi 1:250
3)
Dipengenceran selanjutnya
adalah dengan memindahkan 1 ml desinfektan
ke dalam erlenmayer berisi 299 ml aquadest steril. Konsentrasi desinfektan
pada erlenmayer ini adalah 1:300
4)
Dipindahkan 1 ml
desinfektan ke dalam erlanmayer yang
berisi 349 ml aquadest steril sehingga konsentrasi kini 1:350
5)
Dipipet 1 ml desinfektan ke dalam erlanmayer berisi 399
ml aquadest steril sehingga
konsentrasi pada erlenmayer ini adalah 1:400
6)
Desinfektan yang akan dipakai
selanjutnya adalah yang konsentrasinya 1:250, 1:300,1:350 dan 1:400. Media,
bakteri uji, larutan fenol, dan desinfektan telah disiapkan. Dengan demikian
kita dapat melakukan inokulasi bakteri uji dalam desinfektan dan fenol dengan
memperhitungkan waktu kontak 5, 10, dan 15 menit secara akurat.
F.
UJI KOEFISIEN FENOL
A.
1)
Disiapkan 18 tabung reaksi
2)
Dipipet sebanyak 5 ml larutan
fenol 1:90,masukkan kedalam 3 tabung reaksi
3)
Dipipet sebanyak 5 ml larutan fenol
1:100,masukkan kedalam 3 tabung reaksi
4)
Dipipet sebanyak 5 ml larutan
desinfektan 1:250,masukkan kedalam 3 tabung reaksi
5)
Dipipet sebanyak 5 ml larutan
desinfektan 1:300,masukkan kedalam 3 tabung reaksi
6)
Dipipet sebanyak 5 ml larutan
desinfektan 1:350,masukkan kedalam 3 tabung reaksi
7)
Dipipet sebanyak 5 ml larutan
desinfektan 1:400,masukkan kedalam 3 tabung reaksi
B. uji fenol
1)
Disiapkan 18 cawan petri
berisi media NA yang telah mengeras
2)
Diuji Fenol 1:90
a.
Dipipet inokulum sebanyak 0,2
ml ke dalam 5ml larutan fenol 1:90.
Tunggu sampai 5 menit, ambil 1 ose dari campuran dan lakukan gores pada cawan
petri yang berisi media NA berlabel F5’
1:90.
b.
Dipipet inokulum sebanyak 0,2
ml ke dalam 5ml larutan fenol 1:90.tunggu sampai 10 menit, ambil lagi 1 ose
kemudian gores pada cawan petri yang berisi media NA berlabel F10’ 1:90.
c.
Dipipet inokulum sebanyak 0,2
ml ke dalam 5ml larutan fenol 1:90.tunggu
sampai 15 menit, ambil lagi 1 ose kemudian gores pada cawan petri yang
berisi media NA berlabel F15’ 1:90.
3)
uji fenol 1:100
a.
Dipipet inokulum sebanyak 0,2
ml ke dalam 5ml larutan fenol 1:100.
Tunggu sampai 5 menit, ambil 1 ose dari campuran dan lakukan gores pada cawan
petri yang berisi media NA berlabel F5’
1:100.
b.
Dipipet inokulum sebanyak 0,2
ml ke dalam 5ml larutan fenol 1:100.tunggu sampai 10 menit, ambil lagi 1 ose
kemudian gores pada cawan petri yang berisi media NA berlabel F10’ 1:100.
c.
Dipipet inokulum sebanyak 0,2
ml ke dalam 5ml larutan fenol 1:100.tunggu
sampai 15 menit, ambil lagi 1 ose kemudian gores pada cawan petri yang
berisi media NA berlabel F15’ 1:100.
4)
uji desinfektan 1:250
a.
Dipipet inokulum sebanyak 0,2
ml ke dalam 5ml larutan desinfektan
1:250. Tunggu sampai 5 menit, ambil 1 ose dari campuran dan lakukan gores pada
cawan petri yang berisi media NA berlabel D5’ 1:250.
b.
Dipipet inokulum sebanyak 0,2
ml ke dalam 5ml larutan desinfektan 1:250.tunggu sampai 10 menit, ambil lagi 1
ose kemudian gores pada cawan petri yang berisi media NA berlabel D10’ 1:250.
c.
Dipipet inokulum sebanyak 0,2
ml ke dalam 5ml larutan desinfektan 1:250.tunggu sampai 15 menit, ambil lagi 1 ose kemudian
gores pada cawan petri yang berisi media NA berlabel D15’ 1:250.
5)
uji desinfektan 1:300
a.
Dipipet inokulum sebanyak 0,2
ml ke dalam 5ml larutan desinfektan
1:300. Tunggu sampai 5 menit, ambil 1 ose dari campuran dan lakukan gores pada
cawan petri yang berisi media NA
berlabel D5’ 1:300.
b.
Dipipet inokulum sebanyak 0,2
ml ke dalam 5ml larutan desinfektan 1:300.tunggu sampai 10 menit, ambil lagi 1
ose kemudian gores pada cawan petri yang berisi media NA berlabel D10’ 1:300.
c.
Dipipet inokulum sebanyak 0,2
ml ke dalam 5ml larutan desinfektan 1:300.tunggu sampai 15 menit, ambil lagi 1 ose kemudian
gores pada cawan petri yang berisi media NA berlabel D15’ 1:300.
6)
uji desinfektan 1:350
a.
Dipipet inokulum sebanyak 0,2
ml ke dalam 5ml larutan desinfektan
1:350. Tunggu sampai 5 menit, ambil 1 ose dari campuran dan lakukan gores pada
cawan petri yang berisi media NA berlabel
D5’ 1:350.
b.
Dipipet inokulum sebanyak 0,2
ml ke dalam 5ml larutan desinfektan 1:350.tunggu sampai 10 menit, ambil lagi 1
ose kemudian gores pada cawan petri yang berisi media NA berlabel D10’ 1:350.
c.
Dipipet inokulum sebanyak 0,2
ml ke dalam 5ml larutan desinfektan 1:350.tunggu sampai 15 menit, ambil lagi 1 ose kemudian
gores pada cawan petri yang berisi media NA berlabel D15’ 1:350.
7)
Diiuji desinektan 1:400
a.
Dipipet inokulum sebanyak 0,2
ml ke dalam 5ml larutan desinfektan
1:400. Tunggu sampai 5 menit, ambil 1 ose dari campuran dan lakukan gores pada
cawan petri yang berisi media NA
berlabel D5’ 1:400.
b.
Dipipet inokulum sebanyak 0,2
ml ke dalam 5ml larutan desinfektan 1:400.tunggu sampai 10 menit, ambil lagi 1
ose kemudian gores pada cawan petri yang berisi media NA berlabel D10’ 1:400.
Dipipet inokulum sebanyak 0,2 ml ke dalam 5ml larutan desinfektan
1:400.tunggu sampai 15 menit, ambil lagi
1 ose kemudian gores pada cawan petri yang berisi media NA berlabel D15’ 1:400.
8)
Diinkubasi cawan petri yang
telah selesai digores pada suhu 36 ± 1º C selama 24 jam.
9)
Diamati ada tidaknya pertumbuhan
bakteri pada setiap cawan petri
Pengamatan :
Pengamatan :
(+) keruh : ada pertumbuhan
(-) jernih : tidak ada pertumbuhan
VI.
PENGAMATAN
1)
Data penimbangan NaCl
Bobot kaca arloji + zat
= 39,7834 g
Bobot kaca arloji kosong
= 38,9332 g
bobot zat = 0,8502 g
2) Sterilisasi aquadest
steril
Jam masuk = 14.15 WIB
Jam mendesis = 14.42 WIB
Jam sterilisasi = 14.54 WIB
Jam selesai sterilisasi =
15.15 WIB
Jam keluar =
15.20 WIB
3)
Data penimbangan NA
Bobot kaca arloji + zat
= 40,4932 g
Bobot kaca arloji kosong
= 38,4930 g
bobot zat = 20,0029 g
4) Sterilisasi NA
Jam masuk = 09.10 WIB
Jam mendesis = 09.35 WIB
Jam sterilisasi = 09.50 WIB
Jam selesai sterilisasi = 10.05 WIB
Jam keluar = 10.15 WIB
5)
Data penimbangan Fenol
Bobot kaca arloji + zat
= 28,1650 g
Bobot kaca arloji kosong
= 27,1648 g
bobot zat = 1,0002 g
6) Pengamatan koefisien fenol
|
Desifektan
|
Pengenceran
|
Waktu
inkubasi(menit)
|
||
|
5
|
10
|
15
|
||
|
Fenol
|
1:90
|
Hidup
|
Hidup
|
Hidup
|
|
1:100
|
Hidup
|
Hidup
|
Hidup
|
|
|
Contoh
uji
|
1:250
|
Hidup
|
Hidup
|
Mati
|
|
1:300
|
Hidup
|
Hidup
|
Hidup
|
|
|
1:350
|
Hidup
|
Hidup
|
Hidup
|
|
|
1:400
|
Hidup
|
Hidup
|
Mati
|
|
VII. PEMBAHASAN
Dari pengamatan praktikum kali ini didapatkan hasil tes
fenol 1:90, suatu desinfektan dengan konsentrasi 1:250, 1:300,1:350 dan 1:400. Tes
fenol dengan pengenceran 1:90 pada tabel di atas menunjukkan bahwa bakteri masih hidup sampai menit 15,begotu pula pada
uji fenol 1:100,bakteri masih hidup sampai menit15.
Pada pengenceran
suatu desinfektan 1:250, menunjukkan bahwa bakteri masih hidup sampai menit ke-10 namun setelah
15 menit, bakteri tersebut mati. Hal ini cukup rasional oleh karena semakin
lama desinfektan tersebut bekerja, semakin efektif pula daya disinfeksinya.asumsi
kami adalah desinfektan ini memiliki kefektifitasan yang cukup bagus untuk
membunuh bakteri tersebut.
Sementara pada pengenceran 1:300,cawan menampakkan kekeruhan pada menit ke 5 sampai ke 15.begitu pula pada penganceran desinfektan 1:350. Dan pada pengenceran desinfektan yang terakhir, yaitu 1:400, terdapat kekeruhan di menit ke-5 dan menit ke-10.sedangkan menit ke-15 bakteri mati. Hal tersebut menimbulkan keraguan pada hasil dari pengenceran 1:250, 1:300atau pada pengenceran 1:350 ini karena hasil yang di peroleh sama.oleh karena kesalahan yang kami lakukan pada praktikum ini, kita tidak dapat melakukan perhitungan koefisien fenol.Terjadinya hal ini dapat diakibatkan oleh berbagai faktor kemungkinan.
Sementara pada pengenceran 1:300,cawan menampakkan kekeruhan pada menit ke 5 sampai ke 15.begitu pula pada penganceran desinfektan 1:350. Dan pada pengenceran desinfektan yang terakhir, yaitu 1:400, terdapat kekeruhan di menit ke-5 dan menit ke-10.sedangkan menit ke-15 bakteri mati. Hal tersebut menimbulkan keraguan pada hasil dari pengenceran 1:250, 1:300atau pada pengenceran 1:350 ini karena hasil yang di peroleh sama.oleh karena kesalahan yang kami lakukan pada praktikum ini, kita tidak dapat melakukan perhitungan koefisien fenol.Terjadinya hal ini dapat diakibatkan oleh berbagai faktor kemungkinan.
Faktor-faktor
kemungkinan penyebab terjadinya kesalahan kami antara lain adalah:
·
Pengerjaan
praktikum secara berkala
Kegagalan yang terjadi dalam
praktikum ini mungkin juga disebabkan oleh pengerjaan cawan petri Uji
Disinfektan secara berkala yang saat itu dimaksudkan untuk mempersingkat waktu
pengerjaan. Pengerjaan secara paralel tersebut telah mengakibatkan
ketidakakuratan dan ketidaktelitian perhitungan waktu yang diperlukan.
·
Ketidakakuratan
dalam pengambilan bakteri menggunakan
pipet ukur
Dalam menginokulasi kuman uji terhadap
desinfektan, kami memindahkan bakteri tersebut
hanya dengan pipet ukur sebanyak 0,2ml. terdapat
kemungkinan bakteri terlalu
banyak dibandingkan dengan
konsentrasi yang diinginkan. Sebab pada percobaan kami, banyak bakteri yang hidup. Pengambilan bakteri dengan pipet ukur mungkin dapat lebih akurat.
·
Pengenceran
desinfektan yang tidak akurat
Pada percobaan kali ini, kami mungkin juga melakukan
kesalahan ketika melakukan pengenceran desinfektan ke dalam 1:250, 1:300, 1:350,dan
1:400.sehingga pada pengenceran 1:300 dan 1:350 bakteri masih hidup pada menit
ke 15.sedangkan pada pengenceran 1:250 dan 1:400 bakteri padat dibunuh pada
menit ke 15.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar